Selain Sekolah dan Orang Tua, Platform Wajib Ciptakan Ruang Digital Ramah Anak

Para peserta seminar bertajuk Saring sebelum Sharing di Ruang Multimedia SMP Perguruan Cikini, Jakarta.
JAKARTA – Selama ini, upaya menciptakan ruang digital ramah anak lebih ditekankan pada peningkatan literasi. Beban tanggung jawab terbesar diserahkan pada pengguna. Seperti guru di sekolah dan orang tua di rumah.
Padahal, perkembangan digital tidak dapat dikendalikan pengguna. Ruang digital terus berkembang. Karena itu, merupakan bisnis inti (core business) dari penyelenggara platform. Karena itu, gerakan global mengarah pada upaya agar platform turut bertanggung jawab, bukan hanya secara sukarela tetapi wajib.
Hal ini dikemukakan Sekretaris Ditjen Pengawasan Ruang Digital Kemdigi Mediodecci Lustarini dalam seminar bertajuk Saring sebelum Sharing di Ruang Multimedia SMP Perguruan Cikini, Jakarta, beberapa waktu lalu ( 4/6/2026).
Menurutnya, hal itu yang mendorong pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, yang salah satu tujuannya adalah membuat regulasi bagi penyelenggara platform.
“Dengan adanya PP Tunas, tanggung jawab penyelenggara platform bagi terciptanya ruang digital yang sehat dikodifikasi menjadi kewajiban. Orang tua juga menjadi terbantu. Banyak orang tua yang tidak tahu bahwa mereka dapat megontrol anak dengan teknologi. Karena apa? Karena ada gap antara orang tua dan anak. PP ini kita harapkan dapat menjembatani antara regulasi dan literasi digital,” papar Mediodecci.
Seminar tersebut diselenggarakan 10 mahasiswa program magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina Jakarta bekerja sama dengan SMP Perguruan Cikini, Jakarta, yang berdiri sejak 1956. Ke-10 mahasiswa tersebut tergabung dalam kelompok studi Bertunas Digital. Mereka adalah Alfaddillah, Ammar Mandili Lubis, Dewinta Diah Wismasari, Diaz Ajeng Pradila, Eben Ezer Siadari, Fajar Nur Rohmah, Ridho Ikhsan, Sheila Merista, Suryanto Kurniawan Putra, dan Tajussarofi. Penyelenggaraan seminar merupakan implementasi tridarma perguruan tinggi sebagai bagian dari kegiatan studi mereka.
Selain Mediodecci, tampil sebagai narasumber, Dosen Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina Jakarta Dr. Tatik Yuniarti, M.I.Kom dan Alfadillah, ketua kelompok mahasiswa Bertunas Digital. Turut hadir Sekretaris Program Studi Magister Komunikasi Universitas Paramadina Wahyutama Ph.D, Kepala Sekolah SMP Perguruan Cikini Sugeng Ependi S.Si, dan Wakil Kepala Sekolah Zakiyatul Fikriyyah, S. Pd.
Dalam paparannya yang berjudul “Internet Baik, Anak Hebat: Menjadi Generasi Digital yang Kritis dan Beretika,” Mediodecci memperlihatkan penetrasi internet di Indonesia pada 2025, mencapai 80,66 persen dengan sekitar 229,94 juta pengguna. Sekitar 79,73 juta adalah anak Gen Alpha di bawah 13 tahun.
“Hari ini, anak-anak hidup di dua ruang sekaligus. Yakni, ruang nyata dan ruang digital dan keduanya sama-sama memengaruhi tumbuh kembang mereka. Karena itu, ruang digital tidak bisa lagi dianggap sekadar tempat hiburan, melainkan ruang hidup anak yang harus dijaga agar tetap aman, sehat, dan mendukung perkembangan mereka,” kata Mediodecci.
PP Tunas, lanjut dia, menempati posisi sebagai sabuk pengaman, bukan untuk membatasi gerak anak, tetapi untuk menjaga mereka tetap aman saat menggunakan ruang digital.
“Tunas dimaknai sebagai ‘Tunggu Anak Siap’, yaitu prinsip bahwa akses anak ke platform digital perlu disesuaikan dengan kesiapan usia dan tingkat risikonya,” kata Mediodecci.
Seminar dihadiri 73 siswa kelas VII dan VIII serta 10 guru dan tenaga pendidik dan 10 orang tua, berlangsung dalam suasana akrab. Para siswa antusias, terlihat dari spontanitas mereka menceritakan pengalaman menggunakan ruang digital.
Alfadillah mengatakan, berangkat dari pemetaan sosial (social mapping) yang dilakukan terhadap murid SMP Perguruan Cikini, diketahui murid menghabiskan rata-rata 4–6 jam per hari di dunia digital.
“Durasi yang panjang ini menjadikan literasi digital penting agar apa yang mereka lihat dan alami tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga tetap aman dan bermanfaat bagi tumbuh kembang mereka,” kata Alfadillah.
Sementara itu, Dr Tatik Yuniarti menekankan, cara cerdas bermedia sosial dimulai dari kemampuan untuk memilih.
“Kita perlu lebih selektif dalam menentukan akun yang diikuti, video yang ditonton, informasi yang dipercaya, dan konten yang dibagikan. Jangan mudah percaya pada sesuatu hanya karena sedang viral, banyak ditonton, atau sering muncul di beranda,” kata Tatik.
Menggunakan media sosial secara cerdas, kata Tatik, juga berarti mampu mengendalikan diri.
“Kita perlu mengatur waktu penggunaan gawai. Jika media sosial mulai mengganggu belajar, waktu istirahat, hubungan dengan keluarga, atau kesehatan mental, berarti kita perlu mengevaluasi cara kita menggunakannya,” lanjut Dr. Tatik.
Seusai seminar, Alfadillah menjelaskan berdasarkan hasil pre-test dan pos-test terhadap penyelenggaraan kegiatan ini, diperoleh hasil yang menggembirakan.
“Terjadi peningkatan pemahaman peserta, terutama siswa SMP Perguruan Cikini, terkait literasi digital, risiko dan ancaman di ruang digital, serta prinsip perlindungan anak sesuai amanat PP Tunas,” kata Alfadillah.
Selanjutnya, hasil seminar akan dituangkan dalam bentuk rekomendasi kebijakan serta penelitian yang akan dipublikasikan di jurnal ilmiah nasional.
Kepala Sekolah SMP Perguruan Cikini, Sugeng Ependi S.Si, menyambut positif inisiatif kolaboratif tersebut. Menurut Sugeng, seminar edukasi ini datang pada waktu yang tepat di tengah semakin diperlukannya upaya menumbuhkan kecakapan digital dalam menghadapi berbagai dampak negatif penggunaan internet.
“Kami menyambut baik inisiatif kolaborasi dari mahasiswa Universitas Paramadina. Kami yakin kegiatan ini akan sangat bermanfaat dalam membentuk karakter anak didik kami agar lebih bijak, cerdas, dan beretika dalam menyebarkan maupun menerima informasi di ranah daring,” jelas Sugeng Ependi. (*)