Dalam Kuliah Pakar, Magister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang Kritisi Industri Film

UMM Malang hadirkan Kuliah Pakar.
MALANG – Program Magister Sosiologi Direktorat Program Pasca Sarjana (DPPS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan kuliah pakar dengan tema “Sosiologi Masyarakat di dalam Karya-Karya Film Indonesia,” Senin (24/11/2025). Acara yang diselenggarakan secara daring via Zoom Meeting tersebut, dihadiri 50 peserta. Pada kesempatan ini, pihak UMM menghadirkan Dirmawan Hatta, Pekerja Film Nasional sebagai narasumber utama.
Sementara itu, Rachmad K. Dwi Susilo, MA., Ph.D., Ketua Program Studi Magister Sosiologi DPPS UMM berperan sebagai pemantik diskusi.
Sebagai pembuka kuliah, Rachmad K. Dwi Susilo menyampaikan pandangan sosiologis mendasarnya tentang film.
“Film memberi kedekatan emosional dan wawasan yang mendalam, bahkan membawa penonton ke dalam arus moral dan jauh ke hilir hingga tenggelam ke dalam film tersebut,” jelas Rachmat.
Lebih lanjut, doktor lulusan Jepang ini mengatakan, film bisa menggambarkan perubahan sosial masyarakat hari ini, terutama dalam konteks masyarakat postmodern. “Karena dalam film terjadi pergulatan wacana, pengetahuan, dan kekuasaan,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, Rachmad juga memberi kritik refleksif pada disiplin Sosiologi. “Kalau ketemu sosiolog itu omongannya selalu pemberdayaan masyarakat, kemiskinan, atau panti asuhan. Padahal sebagai kajian sosiologis, film jauh lebih beragam dan menarik,” tegasnya.
Sementara itu, Dirmawan Hatta, dari sudut pandang praktisi, menjelaskan pendekatannya dalam produksi film.
“Kami mencoba berkelit dari produksi mainstream dengan mode produksi yang lebih sensitif terhadap kenyataan,” paparnya.
Ia melihat, film sebagai medium yang powerful untuk merekam dinamika sosial. “Film bisa menangkap drama perebutan sumber daya: cinta, tanah, kerja, ruang hidup,” lanjutnya. Menurutnya, film punya kesaktian untuk memvisualkan fenomena sosial yang rumit.
Diskusi semakin hidup dengan kontribusi kritis dari para mahasiswa. Izza Amalia, mahasiswa Magister Sosiologi UMM, menyoroti peran “Film sebagai agen sosialisasi” yang mampu membentuk persepsi dan alam bawah sadar penonton.
Sedangkan Fahmi Huda, sesama mahasiswa, mengangkat aspek framing dan hiperrealitas.
“Film turut dalam framing strata sosial… orang kaya selalu digambarkan hidupnya lebih enak,” ujarnya.
Ia juga mengkritik representasi agama dalam genre horor. “Film horor di Indonesia selalu dekat dengan agama Islam… ustaz, kiai… ini hiperrealitas,” kritiknya.
Menanggapi hal tersebut, Dirmawan Hatta memberi perspektif industri dengan blak-blakan.
“Produser membuat film horor, esek-esek, keislaman… bukan ideologis tapi murni komersial,” jelasnya, seraya menambahkan logika pasar yang tak terbantahkan. “Kalau tidak ada yang beli, filmnya tidak akan dibuat,” imbuhnya.
Kemudian, Ia mengajak peserta kuliah pakar untuk berefleksi lebih luas. “Apakah layak kita hanya menyalahkan produser, bukan yang membeli dan mengamini?” tanya Dirmawan.
Sesi tanya jawab yang interaktif membuktikan tingginya antusiasme peserta, dengan banyaknya pertanyaan yang mengupas lebih dalam relasi film, masyarakat, dan kekuasaan. Dinamika ini menunjukkan, diskusi tidak benar-benar berakhir, tetapi membuka banyak perspektif baru untuk dikaji lebih lanjut.
Dari diskusi tersebut, Fahmi Huda memberikan sebuah sintesis yang memantik pemikiran. “Ini fenomena yang berkaitan… semua industri akhirnya berujung komersial… hiperrealitas bagian dari daya tarik pertunjukan,” tegasnya.
Kuliah pakar ini sekali lagi menegaskan komitmen Program Magister Sosiologi UMM dalam menghadirkan analisis politik, kebijakan, dan budaya kontemporer melalui pendekatan sosiologi terapan yang kontekstual. Kali ini dengan menjadikan film sebagai lensa untuk memahami kompleksitas masyarakat Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan segar dari peserta memastikan bahwa dialog tentang sosiologi film ini akan terus berlanjut di luar ruang kuliah. (*)