Seni yang Merawat, Perempuan yang Menguatkan

0
Pameran_4

Anggota Niti Kanti, kelompok seniman perempuan.

YOGYAKARTA – Di sebuah ruang pamer yang hangat di Yogyakarta, belasan perempuan berdiri di depan karya-karya mereka. Sebagian tersenyum, sebagian lain memandangi lukisan yang baru saja dipasang di dinding.

Bagi pengunjung, yang terlihat mungkin hanya deretan kanvas dengan beragam warna dan bentuk. Namun, bagi para senimannya, setiap karya menyimpan perjalanan panjang tentang keberanian, penerimaan, dan perjuangan untuk memperoleh ruang yang selama ini tidak selalu terbuka.

Mereka adalah para anggota Niti Kanti, kelompok seniman perempuan yang mempertemukan perempuan difabel dan non-difabel dalam satu ruang belajar, berkarya, dan bertumbuh bersama. Melalui pameran “Rawat, Rasa, Rupa” di Equalitera Artspace Ringroad barat, Geblagan, Tamantrito, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, mulai dari tanggal 3 hingga 10 Agustus 2026, mereka tidak sekadar memamerkan hasil kreativitas. Mereka sedang menyampaikan pesan, seni adalah bahasa yang mampu melampaui batas tubuh, kondisi fisik, maupun stigma sosial.

Kelompok ini lahir pada awal 2026 atas inisiatif Jogja Disability Arts (JDA). Gagasannya sederhana, tetapi penting. Yakni, menyediakan ruang yang aman bagi perempuan untuk berkesenian tanpa dibatasi oleh label disabilitas maupun non-disabilitas.

Di ruang itulah Alberta Fitri, Arita Savitri, Asri Nino, Kireina Jud Aisyah, Loka, Lully Tutus, Ratih Alsaira, Rofitasari Rahayu, Salasatul Hidayah, Wiji Astuti, Yaya Maria, dan Yuni Daud bertemu, berdialog, dan saling belajar.

Masing-masing membawa pengalaman hidup yang berbeda. Ada yang menjadikan tubuh sebagai medium bercerita. Ada yang merekam ingatan melalui warna. Ada pula yang berbicara tentang keseharian, lingkungan, dan hubungan antarmanusia. Perbedaan itu tidak dilebur menjadi satu wajah yang seragam. Sebaliknya, justru dirayakan sebagai kekayaan yang memperluas cara memandang kehidupan.

Semangat itulah yang kemudian diterjemahkan dalam tema Rawat, Rasa, Rupa. Merawat, dalam pameran ini, bukan sekadar tindakan penuh kasih terhadap seseorang. Merawat adalah keberanian memberi ruang kepada pengalaman yang selama ini jarang terlihat. Merawat berarti menghadirkan mereka yang kerap berada di pinggir agar berdiri sejajar di tengah.

Kurator Dr. Vina Puspita melihat pameran ini sebagai praktik ethics of care—sebuah cara memandang manusia sebagai makhluk yang saling terhubung dan saling membutuhkan. Karena itu, pameran ini tidak berhenti pada persoalan representasi perempuan ataupun disabilitas. Yang lebih penting adalah membangun ruang yang memungkinkan setiap pengalaman memperoleh tempat yang sama untuk didengar, dilihat, dan dihargai.

Makna itu semakin terasa ketika pelukis senior Kartika Affandi hadir membuka pameran sekaligus menyumbangkan sebuah karya sebagai bentuk dukungan terhadap semangat kesetaraan dan inklusi. Kehadirannya menjadi symbol, seni bisa menjembatani lintas generasi, lintas pengalaman, dan lintas kemampuan.

Suasana pembukaan pun berlangsung akrab. Alunan musik dari Budi Angkoso mengisi ruang pamer. Sementara Arita Savitri memikat perhatian pengunjung melalui demonstrasi kirigami yang memperlihatkan bagaimana selembar kertas sederhana dapat berubah menjadi karya yang penuh keindahan. Seperti kirigami yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran, demikian pula perjalanan para seniman Niti Kanti yang perlahan membentuk harapan dari pengalaman hidup mereka.

Di balik seluruh rangkaian itu, tersimpan harapan besar yang disampaikan Ketua Niti Kanti, Yaya Maria. Ia ingin kelompok ini menjadi ruang yang mampu mendobrak sekat-sekat yang selama ini mengungkung teman-teman difabel. Ia berharap, semakin banyak perempuan difabel berani berkarya, tidak lagi merasa takut atau ragu bergabung dengan siapa pun, serta memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Lebih jauh lagi, ia berharap masyarakat memandang karya seniman difabel setara dengan karya siapa pun, karena nilai sebuah karya tidak ditentukan oleh kondisi fisik penciptanya, melainkan oleh gagasan, kejujuran, dan daya sentuhnya.

Harapan itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Selama bertahun-tahun, banyak penyandang disabilitas lebih sering dipandang sebagai objek belas kasihan daripada subjek yang memiliki kemampuan, kreativitas, dan daya cipta.

Pameran ini memilih jalan yang berbeda. Ia tidak meminta simpati. Ia menawarkan kesetaraan.

Di situlah kekuatan Rawat, Rasa, Rupa. Pameran ini tidak sedang mengajarkan bagaimana mengasihani penyandang disabilitas. Ia mengajak publik belajar menghargai keberagaman pengalaman manusia. Seni menjadi jembatan yang mempertemukan perbedaan tanpa menghapus identitas masing-masing.

Pada akhirnya, karya-karya yang memenuhi dinding Equalitera Artspace bukan hanya menghadirkan rupa yang indah. Di dalamnya hidup rasa, keberanian, dan keyakinan, setiap manusia berhak memperoleh ruang yang sama untuk berkarya dan diapresiasi.

Mungkin inilah makna paling hakiki dari merawat: menjaga agar harapan, kemanusiaan, dan kesetaraan terus hidup, satu sapuan kuas pada satu kanvas, hingga akhirnya mengubah cara kita memandang sesama. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *