Bekali Insan Pers Pelatihan Survival dan Proteksi Diri, Hasil Kerja Sama PP DIY dengan Pers Siber Indonesia

MPW Pemuda Pancasila (PP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar pelatihan bertajuk “Kunci Keselamatan Jurnalis: Pelatihan Survival dan Proteksi,” bersama Pers Siber Indonesia.
YOGYAKARTA – Sekretariat Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila (PP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar pelatihan bertajuk “Kunci Keselamatan Jurnalis: Pelatihan Survival dan Proteksi.” Kegiatan tersebut digelar di Jalan Candi Sambisari, Sleman dan diikuti puluhan jurnalis, anggota masyarakat umum, dan perwakilan organisasi kepemudaan.
Dalam pelatihan tersebut, tujuannya adalah membekali para insan pers dengan kemampuan pengamanan diri yang mumpuni. Alasannya, profesi jurnalis seringkali bersinggungan langsung dengan risiko keamanan di lapangan.
Ketua MPW Pemuda Pancasila DIY Faried Jayen Soepardjan mengatakan, pembekalan tersebut begitu krusial. Pada kesempatan tersebut, ia menekankan, meski Yogyakarta dikenal sebagai daerah yang damai, wilayah ini memiliki potensi kerawanan konflik.
“Yogyakarta memang bukan daerah konflik, tapi daerah yang rawan konflik. Hal-hal yang terjadi di lingkup nasional bisa berawal dari Yogya. Trigger (pemicu) bisa datang dari daerah ini,” tegas Faried, di sela acara.
Karena itu, dia berharap melalui pelatihan tersebut, para jurnalis di Yogyakarta bisa menjadi lebih profesional, proporsional, dan terukur dalam menjalankan tugasnya.
Ditambahkan, pelatihan tersebut menghadirkan dua narasumber berpengalaman. Yakni, David Krav, seorang instruktur teknik bela diri nasional dan Beawiharta, seorang fotografer senior dari kantor berita internasional Reuters.
Saat memberikan pelatihan, David Krav memberikan pemahaman mendalam tentang teknik pengamanan diri. Dia menekankan, elemen utama dalam menjaga keselamatan bukanlah semata kemampuan bela diri fisik. Namun juga pemahaman dan pengetahuan tentang cara mengantisipasi serta menghindari ancaman keamanan.
“Semua orang, termasuk jurnalis yang berisiko tinggi, harus terus mengasah kemampuan untuk memitigasi potensi gangguan. Potensi ancaman atau gangguan keamanan bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja. Lebih berbahaya, ketika orang merasa dirinya aman, misalnya karena bekal beladiri yang mumpuni,” papar David yang juga dikenal sebagai pendiri KMI Self Defence dan Tactical Instructors.
David melanjutkan, prinsipnya adalah latihan rutin dan selalu waspada. Dua hal tersebut tidak boleh diabaikan,jika ingin memiliki kemampuan yang baik dalam menghadapi risiko keamanan.
Di sisi lain, Beawiharta, mantan pewarta foto Reuters berbagi pengalaman saat meliput di wilayah konflik. Beawiharta yang memulai sebagai fotografer olahraga tersebut, memutuskan menjadi fotografer news karena pergolakan batin.
Dia pernah meliput peristiwa mencekam kerusuhan 1998, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh, Timor-Timor, Ambon, hingga wilayah konflik di Timur Tengah. Bahkan, ia pernah ditembak kaki kanannya saat bertugas di lapangan.
Sama dengan prinsip self-defence, Beawiharta terbiasa memetakan segala sesuatunya dengan rapi. Mencari jalan aman untuk masuk, dan membuat rute pulang dengan selamat. “Tidak ada berita seharga nyawa,” tegasnya.
Ketua Panitia Acara Pelatihan Mula menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan program awal kolaborasi antara PSI dengan MPW Pemuda Pancasila DIY.
Perwakilan dari Pers Siber Indonesia (PSI) ini meneruskan, organisasi akan terus mendorong program-program strategis yang berfokus pada pengembangan media siber agar mampu mengikuti perkembangan media digital di masa depan. Semua itu sejalan dengan peningkatan profesionalisme jurnalis.
Dengan bekal wawasan dari narasumber berpengalaman dan kesadaran akan potensi risiko di lapangan, Mula berharap para jurnalis di Yogyakarta memiliki pertahanan diri yang lebih baik untuk menjalankan tugas mulia pers. Yakni, menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang. (*)