Reuni 37 Tahun Delayota SMA Negeri 8 Yogyakarta Angkatan 1989, Sambut Masa Pensiun dengan Hidup Sehat

0
Reuni_1

Acara reuni SMA Negeri 8 Yogyakarta Angkatan 1989.

YOGYAKARTA – Reuni Alumni Delayota SMA Negeri 8 Yogyakarta Angkatan 1989 menghadirkan nuansa berbeda. Kumpul kembali teman lama tidak hanya menjadi ajang melepas rindu setelah puluhan tahun berpisah. Temu kangen ini juga dimanfaatkan sebagai momentum mempersiapkan masa pensiun melalui penerapan gaya hidup sehat.

Semangat itu mewarnai Reuni 37 Tahun Alumni Delayota Angkatan 1989. Reuni tersebut diadakan di Villa Kaskoyo, Kaliurang, Sleman Yogyakarta, pekan lalu (4/7/2026).

Sebanyak 78 alumni dari berbagai daerah di Indonesia hadir untuk kembali bertemu setelah hampir 37 tahun menempuh perjalanan hidup masing-masing.

Mengusung tema “Persiapan Masa Pensiun Menuju Kesehatan yang Prima,” kegiatan diawali dengan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan tim Puskesmas Pakem. Dipandu dr. Tri Wijaya, para peserta menjalani pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida, asam urat, serta sejumlah indikator kesehatan lainnya.

Suasana yang semula serius berubah hangat dan penuh gelak tawa setelah rangkaian pemeriksaan selesai. Berbagai permainan keakraban digelar untuk mencairkan suasana sekaligus membangkitkan kembali kenangan masa sekolah. Keceriaan semakin terasa melalui permainan kado silang dan pembagian doorprize yang disambut antusias para peserta.

Ketua Panitia Reuni Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M.Si., mengatakan, reuni tahun 2026 ini sengaja dikemas lebih bermakna. Selain mempererat silaturahmi, pertemuan nostalgia SMA diharapkan mampu meningkatkan kesadaran para alumni akan pentingnya menjaga kesehatan sebagai bekal memasuki masa pensiun.

“Memasuki usia sekitar 55 tahun, kesehatan menjadi modal utama untuk menikmati masa pensiun. Kami ingin reuni ini tidak berhenti pada temu kangen, tetapi juga menjadi momentum saling mengingatkan agar tetap menjalani pola hidup sehat dan menjaga kualitas hidup,” ujarnya.

Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah ketika Ibnu Rahmat Sumengkar mengisahkan sejarah lahirnya nama “Delayota”. Cerita itu membawa para alumni kembali mengenang masa-masa awal menjadi siswa SMA Negeri 8 Yogyakarta. Nama yang lahir dari kebersamaan tersebut ternyata tetap hidup sebagai identitas yang terus mengikat persaudaraan hingga puluhan tahun kemudian.

Ketua Alumni Delayota Angkatan 1989 Banowo Setyo Samodra mengajak seluruh alumni untuk terus menjaga komunikasi dan memperkuat tali persahabatan. Menurutnya, memasuki usia pensiun, dukungan sosial dari keluarga dan sahabat menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental, semangat hidup, dan kebahagiaan.

Reuni itu juga menjadi sarana refleksi atas perjalanan hidup para alumni. Sejak lulus pada 1989, mereka menapaki beragam profesi, mulai dari guru, dosen, dokter, birokrat, akademisi, pengusaha, profesional, petani, hingga ibu rumah tangga. Ada yang meraih berbagai pencapaian, ada pula yang bangkit setelah melewati berbagai tantangan kehidupan.

Sementara itu, sejumlah sahabat telah lebih dahulu berpulang, meninggalkan kenangan yang terus hidup dalam ingatan dan doa.

Di tengah sejuknya udara Kaliurang dengan latar lereng Gunung Merapi, pertemuan itu seolah mengingatkan bahwa waktu terus berjalan. Rambut yang mulai memutih dan usia yang kian bertambah justru membuat kebersamaan terasa semakin berharga. Reuni bukan lagi sekadar mengenang masa muda, melainkan menjadi ruang untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, serta mensyukuri kesempatan yang masih diberikan untuk berkumpul bersama.

Bagi keluarga besar Delayota 1989, persahabatan tidak berhenti ketika masa sekolah usai. Justru seiring bertambahnya usia, ikatan itu semakin bermakna. Reuni menjadi pengingat bahwa kesehatan, silaturahmi, dan kebersamaan merupakan bekal berharga untuk menyongsong masa pensiun yang tetap sehat, bahagia, dan produktif. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *