Hadirkan Gunungan Buku, Awali Festival Sastra Yogyakarta 2025

0
FSI_2

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Yogyakarta Yetti Martanti.

Dorong Budaya Literasi untuk Anak Muda

YOGYAKARTA – Gunungan buku menjadi awal dari Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025. Acara tahunan ini juga menghadirkan Pasar Buku Sastra di Taman Budaya Embung Giwangan, 30 Juli – 4 Agustus.

Saat rebutan gunungan buku, anak-anak pelajar SMA memang turut meramaikan. Mereka ikut berebut buku dengan masyarakat pecinta buku di halaman TBEG.

“Ini menandakan antusias anak muda itu ternyata untuk membaca masih sangat bagus, ” kata Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Yogyakarta Yetti Martanti, Rabu (30/7/2025).

Yetti menjelaskan, semangat Festival Sastra Yogyakarta yang sudah memasuki tahun keenam ini, selalu mengedepankan literasi. Artinya, FSY mendorong masyarakat untuk mendapatkan informasi mau membaca buku.

“Di tengah arus media sosial, pentingnya literasi ini untuk generasi-generasi muda, ” imbuhnya.

Ia menambahkan, 4.395 karya puisi dari 1.465 peserta di seluruh Indonesia turut berpartisipasi dalam Sayembara Puisi Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025.

“Melalui FSY yang sudah masuk tahun ke-5 in tidak hanya sekedar menghadirkan sebuah perayaan literasi. Namun juga bisa menampilkan kekayaan ekspresi sastra di Yogyakarta. Gelaran kali ini juga menjadi lebih spesial, karena menjadi bagian dari rangkaian pra-event Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia (Rakernas JKPI) XI 2025,” jelasnya.

Ia mengatakan, sejak awal dirintis pada tahun 2021, FSY konsisten menghadirkan tema yang merefleksikan dinamika kesusastraan dan kebudayaan Indonesia, yang juga melibatkan berbagai komunitas dan tokoh sastra. Seperti sastrawan dan akademisi UGM Ramayda Akmal, penulis dan Ketua Komunitas Suku Sastra Fairuzul Mumtaz, serta seniman pertunjukan yang sekaligus Direktur Festival Kebudayaan Yogyakarta Paksi Raras Alit.

“FSY 2025 adalah festival yang bernapas panjang, mengikuti semangat literasi Yogyakarta yang konsisten, kolaboratif, dan berakar kuat di masyarakat. Lewat pendekatan kolaboratif, menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan literasi yang berpihak pada kemanusiaan,” terangnya.

Sementara itu salah satu kurator yang juga merupakan Ketua Komunitas Suku Sastra Fairuzul Mumtaz menyebut, Festival Sastra Yogyakarta 2025 melibatkan 60 lebih sastrawan. Seperti Saut Situmorang, Dewi Lestari, hingga Mahfud Ikhwan. Juga ada 75 lebih penerbit yang juga bekerja sama dengan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY serta 50 komunitas sastra.

Dalam Susur Galur misalnya, lanjut Fairuz, akan ada bincang sastra dari hulu ke hilir, regenerasinya, proses terciptanya, publikasinya, persinggungan antarkomunitas, bagaimana komunitas berdaya. Bahkan juga bagaimana melihat prospek sastrawan ke depan.

“Festival ini juga diharapkan bisa memunculkan penulis atau sastrawan baru. Ada sejumlah peserta yang ikut pitching naskah novel bersama penerbit Bentang Pustaka untuk kemudian diterbitkan. Untuk saat ini memang baru berkolaborasi dengan Bentang Pustaka, ke depan semoga makin banyak penerbit yang ikut berkolaborasi dalam semangat melahirkan para penulis atau sastrawan baru,” tambahnya.  (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *